Anak Memaksa Orang Tua Membelikan Barang Mahal, Apakah Termasuk Nafkah yang Wajib Dipenuhi?
NU Ranting Takerharjo 51× dibaca
Orang tua memiliki kewajiban memberikan nafkah kepada anak, khususnya selama anak belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Nafkah tersebut mencakup kebutuhan yang layak, seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, serta kebutuhan pokok lainnya. Namun, apakah kewajiban tersebut berarti orang tua harus memenuhi setiap keinginan anak, termasuk membeli barang mahal yang sebenarnya berada di luar kemampuan ekonomi keluarga?
Pertanyaan ini menjadi menarik setelah beredar sebuah video di media sosial yang memperlihatkan seorang anak meluapkan kemarahan karena keinginannya untuk memiliki iPhone 17 Pro Max tidak dipenuhi oleh orang tuanya. Dalam video tersebut, anak bahkan disebut merusak sejumlah perabotan rumah. Peristiwa ini kemudian memunculkan perdebatan mengenai pola asuh, gaya hidup, pengaruh lingkungan pergaulan, budaya konsumtif, serta batas kewajiban orang tua dalam memenuhi keinginan anak.
Dalam perspektif fikih, menafkahi anak memang merupakan kewajiban orang tua, terutama ayah, tetapi kewajiban tersebut memiliki batas. Ukuran nafkah bukanlah seluruh keinginan anak harus terpenuhi, melainkan kebutuhan anak tercukupi secara layak sesuai kemampuan orang tua dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat.
Al-Qur’an menegaskan:
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا
“Dan kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani, kecuali sesuai dengan kemampuannya.”
(QS. Al-Baqarah: 233)
Para ulama menjelaskan bahwa nafkah diberikan sebatas kebutuhan yang mencukupi, dengan mempertimbangkan kemampuan orang yang menafkahi serta kebiasaan masyarakat setempat. Dengan demikian, orang tua tidak dibebani kewajiban untuk memenuhi setiap barang yang diinginkan anak apabila barang tersebut bukan kebutuhan pokok atau berada di luar kemampuan ekonomi keluarga.
Bagaimana dengan HP atau Gadget Mahal?
Perkembangan zaman membuat telepon genggam dan perangkat digital dalam kondisi tertentu dapat menjadi kebutuhan penting. Anak mungkin membutuhkan HP untuk komunikasi, pembelajaran, mengakses informasi, maupun kegiatan pendidikan.
Namun, kebutuhan terhadap HP tidak otomatis berarti orang tua wajib membelikan merek, tipe, atau spesifikasi tertentu yang diinginkan anak.
Apabila kebutuhan komunikasi dan pendidikan sudah dapat terpenuhi dengan perangkat yang sesuai kemampuan ekonomi keluarga, maka kewajiban nafkah pada dasarnya telah terpenuhi. Keinginan untuk memiliki HP dengan harga sangat mahal lebih tepat dipandang sebagai kebutuhan tambahan atau pilihan gaya hidup, bukan hak mutlak yang harus dipenuhi orang tua.
Karena itu, ketika orang tua belum mampu membeli barang mahal yang diinginkan anak, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti orang tua telah mengabaikan kewajiban nafkah.
Anak Boleh Meminta, tetapi Tidak Boleh Memaksa
Islam tidak melarang seorang anak memiliki keinginan atau meminta sesuatu kepada orang tuanya, bahkan sesuatu yang mahal sekalipun. Akan tetapi, permintaan tersebut harus disampaikan dengan sopan, santun, dan mempertimbangkan kondisi ekonomi orang tua.
Islam justru memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada kedua orang tua. Allah SWT berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”
(QS. Al-Isra’: 23)
Ayat tersebut menunjukkan pentingnya berbuat baik kepada orang tua, termasuk menjaga ucapan, tidak membentak, tidak berkata kasar, serta tidak melakukan tindakan yang dapat menakutkan atau menyakiti mereka.
Karena itu, memaksa orang tua membeli barang mahal yang berada di luar kemampuan keluarga, apalagi sampai marah, mengintimidasi, atau merusak barang-barang di rumah, tentu tidak sesuai dengan adab seorang anak kepada orang tua.
Persoalannya bukan semata-mata apakah seorang anak boleh menginginkan barang mahal. Anak boleh memiliki keinginan. Yang menjadi persoalan adalah cara meminta, kemampuan orang tua, serta sikap anak ketika keinginannya tidak dapat dipenuhi.
Pelajaran Penting bagi Orang Tua dan Anak
Peristiwa semacam ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi keluarga. Orang tua perlu mengajarkan kepada anak perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, sekaligus memberikan pemahaman mengenai kondisi ekonomi keluarga.
Anak juga perlu belajar bahwa tidak semua sesuatu yang dimiliki teman atau yang sedang populer di media sosial harus dimiliki. Keinginan terhadap barang mahal dapat muncul karena pengaruh lingkungan, tren, pergaulan, maupun kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.
Di sisi lain, orang tua juga perlu membangun komunikasi yang baik dengan anak. Menjelaskan kondisi ekonomi keluarga secara terbuka dan memberikan alternatif yang masuk akal dapat membantu anak memahami mengapa suatu permintaan belum dapat dipenuhi.
Pada akhirnya, kewajiban orang tua adalah memenuhi kebutuhan anak secara layak sesuai kemampuan, bukan memenuhi seluruh keinginan anak tanpa batas. Sebaliknya, anak memiliki kewajiban untuk menghormati orang tua, memahami kondisi keluarga, bersabar ketika keinginannya belum terpenuhi, serta tidak melampiaskan kekecewaan dengan perilaku kasar atau merusak.
Keluarga bukan hanya tempat memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga tempat pertama untuk belajar tentang syukur, kesabaran, tanggung jawab, kesederhanaan, adab, dan menghargai perjuangan orang tua.
Wallahu a'lam bisshawab.
Sumber: NU Online — Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop Bangkalan, Jawa Timur.